Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita NasionalBerita UtamaGlobal

Gejolak Global Kembali Memanas, Sufmi Dasco Pimpin Rapat Koordinasi Ekonomi di Senayan

×

Gejolak Global Kembali Memanas, Sufmi Dasco Pimpin Rapat Koordinasi Ekonomi di Senayan

Sebarkan artikel ini
Pemerintah dan DPR RI menggelar rapat koordinasi serta konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan, membahas langkah menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak global.Senin Siang (29/6/2026) di Jakarta - Foto: Dok. RMOL.id/Tim.

DJITUBERITA,JAKARTA – Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang dipicu lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya kembali konflik di Timur Tengah, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad memimpin rapat koordinasi lintas sektor bersama pemerintah di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin Siang (29/6/2026).

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal memperkuat sinergi kebijakan nasional guna mengantisipasi dampak gejolak global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Rapat koordinasi dihadiri jajaran Kementerian Keuangan selaku Bendahara Negara, Bank Indonesia, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang diwakili Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu, Kementerian ESDM, Menteri Sekretaris Negara, serta pimpinan Komisi XI DPR RI.

Baca Juga Selengkapnya: SIAGA 98: Dasco Miliki Kapasitas Strategis di DPR dan Potensi Besar di Kabinet

Baca Juga Selengkapnya: Sufmi Dasco Pimpin Langkah Reformasi Ekspor SDA, Pemuda Indonesia Timur dan DPP GMNI: Momentum yang Selama Ini Kami Tunggu

Forum tersebut membahas berbagai langkah strategis untuk menjaga ketahanan fiskal dan moneter di tengah tekanan ekonomi dunia yang semakin dinamis.

Sufmi Dasco Ahmad menegaskan koordinasi lintas kementerian dan lembaga menjadi langkah penting agar Indonesia mampu merespons setiap perkembangan global secara cepat dan terukur. Menurutnya, DPR bersama pemerintah memiliki komitmen yang sama untuk memastikan gejolak internasional tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional maupun keberlangsungan pembangunan.

Dalam rapat tersebut, perhatian utama tertuju pada dampak kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan beban impor energi, menekan ruang fiskal pemerintah, serta memengaruhi inflasi dan nilai tukar rupiah.

Baca Juga Selengkapnya: SMART Indonesia Apresiasi Peran Sufmi Dasco Ahmad dalam Mengawal Stabilitas Ekonomi Nasional

Baca Juga Selengkapnya:  Sandri Rumanama Minta Publik Tak Pelintir Candaan Dasco soal “Hidup Jokowi”

Karena itu, seluruh pemangku kepentingan sepakat memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan kepercayaan pelaku usaha tidak terganggu.

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menyampaikan bahwa tantangan ekonomi global saat ini tidak hanya dipengaruhi konflik geopolitik, tetapi juga perlambatan perdagangan dunia, volatilitas pasar keuangan, dan ketidakpastian ekonomi internasional.

Menurutnya, koordinasi yang kuat antar- lembaga menjadi fondasi penting dalam menjaga daya tahan ekonomi Indonesia memasuki semester kedua 2026.

Sementara itu, Kementerian Keuangan menjelaskan pemerintah terus mengoptimalkan pengelolaan kas negara sebagai bagian dari strategi menjaga ruang fiskal. Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian adalah penataan kembali dana pemerintah sekitar Rp281 triliun yang sebelumnya ditempatkan pada bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (HIMBARA).

Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat fleksibilitas pembiayaan APBN sekaligus menjaga likuiditas sistem keuangan nasional.

Bagi DPR, rapat koordinasi ini menjadi bentuk penguatan fungsi pengawasan sekaligus memastikan setiap kebijakan strategis pemerintah berjalan selaras dalam menghadapi tantangan global.

Di tengah meningkatnya risiko ekonomi dunia, Sufmi Dasco Ahmad menekankan pentingnya kolaborasi antar-lembaga agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga, iklim investasi tetap kondusif, serta daya beli masyarakat terlindungi.

Rapat koordinasi di Senayan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah dan DPR memilih mengedepankan langkah antisipatif daripada respons setelah krisis terjadi.

Dengan penguatan koordinasi lintas sektor, Indonesia diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan fiskal dan moneter menghadapi gejolak global yang diperkirakan masih berlanjut hingga paruh kedua 2026. (Tim/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *