Bangka Selatan,Babel – Rendahnya harga Tandan Buah Segar (TBS) di Bangka Selatanterus menuai sorotan, meski harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar justru mengalami kenaikan hingga mendekati Rp15.000 per kilogram.
Kondisi ini memicu pertanyaan dari berbagai pihak, terutama petani, terkait belum selarasnya harga di tingkat lapangan dengan tren kenaikan komoditas sawit.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan bersama pihak Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan DPD APKASINDO Bangka Selatan telah menyepakati kisaran harga pembelian TBS di tingkat pengepul sebesar Rp2.800 hingga Rp3.000 per kilogram.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam kegiatan pembinaan dan pengawasan yang digelar pada Senin (13/4/2026) di Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Bangka Selatan.

Namun, hingga kini realisasi di lapangan belum menunjukkan penyesuaian signifikan. Harga yang diterima petani masih berada di bawah kesepakatan, sehingga menimbulkan kesenjangan harga yang cukup lebar.
Di sisi lain, berdasarkan berita acara penetapan harga TBS periode I April 2026 oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, harga ditetapkan pada kisaran Rp3.088 hingga Rp3.783 per kilogram, tergantung usia tanaman. Angka tersebut semakin mempertegas adanya selisih harga antara kebijakan pemerintah dan praktik di lapangan.

Menanggapi hal ini, pihak PKS mengungkapkan sejumlah alasan yang menjadi penyebab belum naiknya harga TBS. Salah satu faktor utama adalah kualitas buah yang masuk ke pabrik.
Banyak TBS yang diterima dalam kondisi kurang baik, bahkan sebagian telah membusuk akibat keterlambatan pengiriman dari petani maupun pengepul.
“Kualitas buah sangat menentukan rendemen. Jika buah sudah busuk atau terlambat diolah, maka hasilnya turun dan harga ikut terdampak,” ungkap salah satu perwakilan PKS.
Selain itu, melimpahnya pasokan buah sawit di Bangka Selatan juga menyebabkan penumpukan di pabrik. Tidak semua buah dapat langsung diolah pada hari yang sama, sehingga sebagian harus menunggu hingga keesokan hari atau bahkan lebih lama, yang berdampak pada penurunan kualitas.
Perwakilan PT BSSP Simpang Rimba, David Sitepu, menyebut bahwa faktor infrastruktur juga menjadi kendala, terutama belum adanya fasilitas refinery di Bangka seperti yang sudah tersedia di Belitung. Kondisi ini membuat rantai distribusi menjadi lebih panjang dan berpengaruh terhadap harga jual.
Ia juga mengungkapkan bahwa rata-rata rendemen di Bangka Belitung berada di angka 19,21 persen, sementara di perusahaannya hanya sekitar 18 persen, dengan harga beli TBS saat ini di kisaran Rp2.870 per kilogram.
Hal senada disampaikan oleh perwakilan PT MSM Ranggas, Awal Barri, yang menegaskan bahwa pabriknya sangat bergantung pada pasokan dari petani karena berstatus non-kebun. Ia juga menyoroti kendala teknis seperti gangguan mesin yang dapat menghentikan proses produksi dan menyebabkan buah menjadi busuk atau overripe.
Sementara itu, perwakilan PT BPK Payung, Agil, menyampaikan bahwa pihaknya masih mengikuti mekanisme harga antar PKS di wilayah tersebut. Ia juga menekankan tingginya biaya distribusi akibat jarak pengiriman CPO yang cukup jauh.
Perwakilan PT BAP Bedengung, Hendy, menambahkan bahwa persoalan yang dihadapi hampir serupa, termasuk masih ditemukannya buah kastrasi yang turut memengaruhi kualitas dan rendemen.
Dalam pernyataan lainnya, perwakilan PT TBJ Jeriji, Muzakir, mendukung pembangunan refinery di Bangka sebagai solusi jangka panjang untuk memperbaiki harga TBS.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) oleh pekebun, termasuk dalam praktik panen dan pemupukan.
Ia turut menyoroti keterlambatan pengolahan buah hingga H+2 yang menyebabkan penurunan kualitas dan berdampak langsung pada harga.
Meski demikian, pihak PKS menegaskan bahwa mereka tetap menginginkan petani mendapatkan harga yang adil sesuai ketentuan pemerintah provinsi. Namun, hal tersebut harus didukung oleh kualitas buah yang baik serta sistem distribusi yang lebih efisien.
Dalam kesimpulan forum, seluruh pihak, baik PKS maupun petani yang diwakili APKASINDO, diharapkan menjalankan peran masing-masing secara optimal. Harga TBS di tingkat petani ditargetkan dapat mencapai kisaran Rp2.800 per kilogram sebagaimana disepakati bersama.
Forum juga mendorong adanya sinergi antara PKS dan pemerintah daerah dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait pengelolaan kebun sawit yang baik.
Di sisi lain, APKASINDO diharapkan aktif mengedukasi petani agar mematuhi kesepakatan dan menjaga tata niaga yang sehat demi keberlanjutan sektor sawit di Bangka Selatan.















