DJITUBERITA.COM BULA — Potensi sagu di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, mulai menarik perhatian investor. Pemerintah Kabupaten SBT pun tancap gas mendorong hilirisasi sagu agar dapat masuk dalam skema Proyek Strategis Nasional (PSN).
Kesiapan tersebut dibahas dalam rapat kerja yang dipimpin langsung oleh Bupati SBT, Fachri Husni Alkatiri, di Ruang Rapat Bupati SBT pada Sabtu (5/9/2026). Rapat turut dihadiri Sekda, juru bicara Pemda, serta jajaran kepala dinas terkait.
Langkah ini dinilai menjadi momentum penting untuk mengubah sagu dari sekadar komoditas lokal menjadi sektor industri yang mampu memberikan nilai tambah bagi daerah dan masyarakat.
Pemkab SBT kini terus mematangkan berbagai kebutuhan administrasi dan dokumen pendukung sebagai bagian dari proses pengusulan hilirisasi sagu ke pemerintah pusat. Koordinasi dengan kementerian terkait juga terus dilakukan agar agenda tersebut dapat berjalan sesuai tahapan.
Tak hanya mengandalkan dukungan pemerintah, peluang investasi di sektor sagu mulai terbuka. Sejumlah investor disebut telah menunjukkan ketertarikan untuk melihat secara langsung potensi bahan baku dan peluang pembangunan industri pengolahan sagu di SBT.
Jika investasi benar-benar terealisasi, hilirisasi sagu berpotensi membawa perubahan besar bagi perekonomian masyarakat. Sagu yang selama ini banyak dijual dalam bentuk bahan mentah dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Mulai dari tepung sagu, bahan pangan olahan, hingga produk turunan lainnya memiliki peluang untuk dikembangkan melalui industri pengolahan yang terintegrasi.
Bagi masyarakat SBT, kehadiran industri tersebut diharapkan tidak hanya membuka lapangan pekerjaan baru, tetapi juga menciptakan pasar yang lebih baik bagi petani dan pemilik lahan sagu.
Pemkab SBT kini menghadapi tantangan untuk memastikan peluang investasi tersebut benar-benar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal. Infrastruktur, kepastian bahan baku, kemudahan investasi, hingga keterlibatan masyarakat menjadi sejumlah faktor penting yang harus dipersiapkan.
Dengan potensi sagu yang besar dan mulai munculnya minat investor, SBT memiliki peluang untuk membangun ekosistem industri sagu dari hulu hingga hilir.
Jika PSN hilirisasi sagu berhasil diwujudkan, komoditas yang selama ini identik dengan pangan tradisional masyarakat Maluku itu berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi baru Seram Bagian Timur.
Kini publik menunggu satu hal: seberapa cepat langkah Pemkab SBT mengubah potensi besar sagu menjadi investasi nyata dan kesejahteraan bagi masyarakat. (AR-SR)















