DJITUBERITA,BANGKA SELATAN – Kabupaten Bangka Selatan (Basel), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mendapat kucuran alokasi anggaran lebih dari Rp50 miliar dari pemerintah pusat untuk pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tahun 2026.
Program tersebut akan dikembangkan di delapan kawasan pesisir dan diproyeksikan memberikan dampak langsung kepada 1.953 nelayan atau sekitar 47,8 persen dari nelayan yang menjadi sasaran program di Bangka Selatan.
Bupati Bangka Selatan Riza Herdavid, S.T., M.Tr.IP., mengapresiasi dukungan pemerintah pusat tersebut. Menurut dia, besarnya alokasi anggaran dan jumlah kawasan yang mendapatkan program KNMP menjadi peluang untuk memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.
“Alhamdulillah, berdasarkan informasi yang diterima dari dinas terkait, tahun ini kita mendapatkan kucuran alokasi anggaran lebih dari Rp50 miliar untuk program pengembangan KNMP.
Berdasarkan alokasi tersebut dan jumlah titik KNMP, maka Basel saat ini menjadi daerah tertinggi di Babel dalam program ini,” kata Riza di Toboali, Senin (31/8/2026).
Riza berharap program tersebut tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan serta masyarakat pesisir.
“Kita berharap kucuran anggaran yang digelontorkan oleh pusat ini akan mendongkrak pendapatan sekaligus tingkat kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya efek ekonomi lokal dari pelaksanaan program. Menurut Riza, pembangunan KNMP diharapkan dapat membuka kesempatan kerja sekaligus mendorong penggunaan tenaga kerja dan material dari daerah.
“Di samping itu, kita juga berharap kucuran program pusat ini juga menggeliatkan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan tenaga kerja dan penggunaan bahan baku material,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Bangka Selatan Dedy Yunihardi, S.P., M.M., mengatakan terdapat delapan kawasan yang menjadi lokasi pengembangan KNMP tahun ini.
Selain Desa Tukak, tujuh lokasi lainnya yakni Desa Tanjung Ketapang, Serdang, Kepoh, Sadai, Tanjung Sangkar, Celagen, dan Pasir Putih.
Dedy menjelaskan, dukungan anggaran tersebut akan diarahkan untuk pembangunan infrastruktur dan sarana-prasarana yang menunjang aktivitas ekonomi nelayan.
“Alokasi anggaran yang akan dikucurkan berupa infrastruktur dan sarpras seperti jetty, pabrik es, gudang beku, sumber air bersih dan beberapa jenis bantuan lainnya,” kata Dedy.
Program tersebut juga tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Nelayan sasaran akan mendapatkan fasilitas cakupan premi BPJS Ketenagakerjaan serta bimbingan dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas usaha.
Dedy mengatakan Dinas Perikanan Bangka Selatan akan melakukan pemantauan terhadap perkembangan kegiatan di sejumlah titik. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pembangunan berjalan lancar dan manfaat program benar-benar diterima masyarakat sasaran.
“Untuk itu, kita di dinas juga akan melakukan pemantauan progres kegiatan di sejumlah titik tersebut untuk memastikan agar pelaksanaan berjalan lancar dan tepat sasaran,” ujarnya.
Berdasarkan data sasaran yang disampaikan Dinas Perikanan Bangka Selatan, sebanyak 1.953 nelayan atau sekitar 47,8 persen akan terdampak program tersebut.
Potensi Perikanan Bangka Selatan
Kucuran program KNMP menjadi penting bagi Bangka Selatan karena sektor perikanan memiliki basis produksi yang besar dan tersebar di sejumlah wilayah pesisir.
Data sektoral Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mencatat produksi perikanan tangkap mencapai 42.437,76 ton pada 2023, meningkat dibandingkan 40.700,3 ton pada 2022.
Pada 2023, produksi perikanan tangkap terbesar tercatat di Kecamatan Tukak Sadai sebesar 12.847 ton, disusul Kepulauan Pongok 12.836 ton dan Toboali 10.621 ton. Lepar juga mencatat produksi 5.468 ton.
Data tersebut menunjukkan bahwa potensi perikanan Bangka Selatan tidak hanya bertumpu pada aktivitas penangkapan ikan, tetapi juga memiliki ruang pengembangan pada mata rantai pasca produksi.
Karena itu, keberadaan jetty, pabrik es, gudang beku dan sumber air bersih menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem perikanan dari hulu hingga hilir. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu nelayan menjaga kualitas hasil tangkapan, memperkuat penyimpanan serta membuka peluang pengolahan dan pemasaran produk perikanan bernilai tambah.
Dengan delapan kawasan KNMP dan sasaran 1.953 nelayan, tantangannya kini bukan hanya memastikan pembangunan fisik selesai. Pemerintah daerah perlu memastikan fasilitas tersebut berfungsi, dikelola secara produktif dan terhubung dengan rantai pasar.
Jika dikelola secara konsisten, dukungan pusat lebih dari Rp50 miliar ini dapat menjadi momentum memperkuat Bangka Selatan sebagai salah satu kawasan penting perikanan di Kepulauan Bangka Belitung bukan sekadar sebagai daerah penghasil ikan, tetapi juga sebagai kawasan yang mampu mengembangkan industri pengolahan, meningkatkan nilai tambah hasil laut dan memperluas kesejahteraan masyarakat pesisir.














