Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita Utama

Jakarta Darurat Sampah, Aktivis Gaungkan Pengelolaan Mandiri Berbasis Masyarakat

×

Jakarta Darurat Sampah, Aktivis Gaungkan Pengelolaan Mandiri Berbasis Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Diskusi publik “Membangun Kesadaran Kolektif: Peran Aktif Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Mandiri” yang digelar Gerakan Aktivis Jakarta di Dapur Biranda, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (2/6/2026). (Foto: Dok. Gerakan Aktivis Jakarta)

DJITUBERITA,JAKARTA – Persoalan sampah di Jakarta yang mencapai sekitar 9.000 ton per hari mendorong berbagai elemen masyarakat untuk mengambil langkah nyata dalam mendorong perubahan pola pengelolaan sampah.

Salah satunya dilakukan melalui diskusi publik bertajuk “Membangun Kesadaran Kolektif: Peran Aktif Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Mandiri” yang digelar Gerakan Aktivis Jakarta di Dapur Biranda, Jatinegara, Selasa (2/6/2026).

Diskusi yang dipandu moderator Gusvi Hendri itu menghadirkan perwakilan pemerintah daerah, legislatif, akademisi, serta pegiat lingkungan. Forum tersebut menjadi ruang bersama untuk membahas strategi pengelolaan sampah yang lebih efektif dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama perubahan.

Ketua Panitia sekaligus Presidium Gerakan Aktivis Jakarta, M. Awab Zimah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan.

“Kegiatan ini adalah wujud nyata komitmen kami untuk membangun kesadaran masyarakat agar tidak lagi memandang sampah sebagai beban, melainkan sebagai tanggung jawab yang harus dikelola secara mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Cyril Raoul Hakim, menilai persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga pola pikir masyarakat. Menurut dia, perubahan budaya dan kebiasaan menjadi faktor penting dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif.

“Sampah ini memiliki ideologi. Singapura berhasil karena normalisasi pengelolaan sampah dilakukan sejak lama. Jakarta kini memasuki fase tersebut dan harus bertransformasi menjadi kota global yang bersih, sehat, dan berkelanjutan melalui inovasi teknologi serta kolaborasi kolektif,” kata Cyril.

Ketua Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta, Yudistira Hermawan, menegaskan pihaknya akan mengawal pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah.

Menurut dia, fokus pengawasan tidak hanya pada sosialisasi kebijakan, tetapi juga memastikan anggaran daerah diarahkan untuk pemberdayaan masyarakat dan penguatan sarana pengolahan sampah.

“Kami akan memastikan anggaran APBD difokuskan pada pelatihan edukasi masyarakat dan pemeliharaan infrastruktur pengolahan sampah, bukan hanya pengadaan fisik,” ujarnya.

Dari sisi teknis, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, M. Adib Awaludin, menekankan pentingnya peran Bank Sampah sebagai pusat edukasi perubahan perilaku masyarakat.

Menurut dia, pemilahan sampah dari sumber menjadi faktor utama keberhasilan berbagai program pengolahan lanjutan, termasuk komposting dan budidaya maggot.

“Fokus kami adalah menjadikan Bank Sampah sebagai pusat edukasi perubahan perilaku, bukan sekadar unit bisnis,” kata Adib.

Sementara itu, Yohanes Daramonsidi dari PD Pasar Jaya mengakui pasar tradisional masih menjadi salah satu penyumbang terbesar sampah organik di Jakarta. Karena itu, edukasi kepada pedagang terus dilakukan untuk mendorong pengurangan dan pengolahan sampah langsung dari sumbernya.

“Kami terus melakukan edukasi kepada pedagang dan menjajaki kerja sama teknologi pengolahan sampah agar sampah organik tidak berakhir menjadi beban di tempat pembuangan akhir,” ujarnya.

Pakta Komitmen

Diskusi tersebut menghasilkan sejumlah komitmen bersama yang akan menjadi fokus tindak lanjut para pemangku kepentingan, antara lain:

Optimalisasi bantuan operasional berupa truk hijau bagi Bank Sampah yang aktif.

Penyusunan standar teknis pemilahan sampah oleh DLH DKI Jakarta.

Penguatan alokasi APBD untuk pemberdayaan masyarakat dan infrastruktur pengolahan sampah.

Dorongan penerapan sistem pengolahan sampah mandiri bagi pusat perbelanjaan dan kawasan industri.

Pelaksanaan pelatihan daur ulang untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi dari sampah.

Koordinator Presidium Gerakan Aktivis Jakarta, Agus Harta, mengatakan forum tersebut menjadi langkah awal memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi persoalan sampah di Jakarta.

“Ini adalah awal dari kolaborasi yang lebih luas. Kami tidak hanya berbicara, tetapi juga bekerja untuk mewujudkan Jakarta yang bersih dan mandiri dalam pengelolaan sampah dalam tiga tahun ke depan,” katanya.(tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *