Jakarta – Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.mulai berdampak langsung ke dalam negeri. Pemerintah mulai gusar dan menyiapkan langkah antisipatif berupa efisiensi besar-besaran hingga opsi kebijakan Work From Home (WFH) di sejumlah sektor.
Situasi memanas setelah Iran membatasi akses pelayaran di jalur vital tersebut dan hanya mengizinkan kapal dari negara tertentu melintas, di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026.
Blokade Selektif, Jalur Energi Dunia Terganggu
Berdasarkan laporan perusahaan intelijen maritim Windward, Iran kini menerapkan blokade selektif dengan membuka akses terbatas bagi negara yang dianggap netral.
Baru 3 Negara Boleh Melintas di Selat Hormuz
1.Pakistan
2 India
3. Turki
dilaporkan berhasil melintas melalui jalur yang diizinkan.
Sementara itu, menurut Al Jazeera, negara lain seperti China serta beberapa negara Eropa masih melakukan negosiasi untuk mendapatkan akses serupa.
Indonesia Belum Masuk Daftar Prioritas
Di tengah situasi tersebut, kapal tanker berbendera Indonesia belum disebut memperoleh izin melintas. Padahal, Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah dan LPG yang sebagian jalurnya melewati Selat Hormuz.
Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi rawan, dengan potensi:
– Gangguan pasokan energi
– Kenaikan biaya logistik dan asuransi kapal
– Tekanan terhadap harga BBM dalam negeri
Pemerintah Mulai Gusar, Efisiensi Dipercepat
Merespons situasi global yang kian tidak menentu, pemerintah mulai menyiapkan langkah efisiensi besar-besaran di berbagai sektor.
Langkah ini bertujuan:
– Menjaga stabilitas fiskal negara
– Mengantisipasi lonjakan harga energi
– Mengurangi beban operasional
Efisiensi dinilai pemerintah sebagai langkah cepat untuk meredam dampak awal sebelum krisis melebar.
WFH Kembali Jadi Instrumen Penghematan
Selain efisiensi anggaran, pemerintah juga mulai mempertimbangkan kembali kebijakan WFH.
Penerapan kerja dari rumah dinilai Pemerintah efektif untuk:
– Menekan konsumsi BBM akibat mobilitas harian
– Mengurangi penggunaan energi di perkantoran
– Menjaga produktivitas di tengah ketidakpastian
Kebijakan ini sebelumnya terbukti berjalan saat pandemi dan kini kembali dilirik sebagai strategi adaptif menghadapi tekanan global.
Alarm Ketahanan Energi Nasional
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia. Ketika akses dibatasi, dampaknya menjalar ke seluruh negara, termasuk Indonesia.
Situasi ini menjadi alarm keras bahwa ketahanan energi nasional masih rentan terhadap gejolak geopolitik global. Pemerintah pun didorong untuk mempercepat:
– Diversifikasi sumber energi
– Penguatan cadangan strategis
– Transisi ke energi alternatif
Memanasnya Selat Hormuz bukan sekadar konflik kawasan, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi Indonesia.
Langkah pemerintah yang mulai mengarah pada efisiensi besar-besaran dan opsi WFH menunjukkan bahwa tekanan global kini sudah masuk ke level domestik dan membutuhkan respons cepat diplomasi politik luar negeri khususnya ke negara Iran dan kembali ke ruh politik bebas aktif (Non-Blok) serta jangan grasak- grusuk mengambil kebijakan luar negeri yang belum tentu menguntungkan ekonomi domestik nasional.















