DJITUBERITA,JAKARTA – Kantor Staf Presiden (KSP) menegaskan bahwa perguruan tinggi yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan merupakan fondasi penting dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul menuju visi Indonesia Emas 2045. Penegasan tersebut disampaikan dalam U25 Leaders Forum Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) 2026 yang digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (30/7).
Mewakili Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. Dudung Abdurachman, Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan Mayjen TNI (Purn) Prof. Dr. Budi Pramono menyampaikan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga menjadi motor lahirnya inovasi, talenta unggul, serta transformasi sosial dan ekonomi nasional.
Menurutnya, investasi di sektor pendidikan tinggi merupakan investasi strategis jangka panjang yang menentukan daya saing Indonesia di masa depan.
“Kampus yang berkualitas adalah kampus yang mampu memberikan rasa aman bagi seluruh sivitas akademika,” ujar Budi Pramono saat memberikan paparan di hadapan para rektor PTN-BH se-Indonesia.
Ia menegaskan, indikator keberhasilan perguruan tinggi kini telah berkembang. Selain prestasi akademik dan reputasi institusi, kualitas lingkungan belajar yang sehat, aman, inklusif, serta manfaat hasil riset bagi masyarakat menjadi ukuran penting keberhasilan sebuah universitas.
Budi mengatakan, pemerintah memandang perguruan tinggi memiliki tanggung jawab membangun ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan lulusan berkarakter, produktif, dan memiliki integritas tinggi.
Di tengah tantangan geopolitik global, percepatan disrupsi teknologi, hingga ancaman radikalisme dan kekerasan, ia menilai pembangunan SDM menjadi bagian penting dari ketahanan nasional.
“Ketahanan bangsa juga ditentukan oleh kemampuan membangun manusia yang memiliki daya tahan terhadap berbagai ancaman nonmiliter yang dapat melemahkan kohesi sosial, persatuan nasional, dan produktivitas bangsa,” katanya.
Dalam paparannya, Budi juga menekankan bahwa universitas masa depan harus mampu menghadirkan lingkungan belajar yang aman, berkeadilan, inklusif, serta memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh mahasiswa tanpa diskriminasi, termasuk penyandang disabilitas.
Lingkungan akademik seperti itu diyakini akan melahirkan pemimpin bangsa yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, empati, serta komitmen menjaga persatuan Indonesia.
Kepada para pimpinan PTN-BH, Budi mengajak seluruh perguruan tinggi mengimplementasikan tiga pilar kepemimpinan strategis, yakni Leadership with Integrity, Leadership with Innovation, dan Leadership with Collaboration. Menurutnya, integritas merupakan fondasi utama dalam menciptakan tata kelola kampus yang mampu melindungi hak dan martabat seluruh warga akademik.
Menutup paparannya, Budi menegaskan KSP akan terus mengawal pelaksanaan transformasi pendidikan tinggi sesuai arahan Presiden Republik Indonesia agar manfaat pembangunan dapat dirasakan seluruh masyarakat.
“Tidak boleh ada talenta yang tertinggal karena disabilitas. Tidak boleh ada mahasiswa yang kehilangan masa depannya karena kekerasan. Dan tidak boleh ada anak bangsa yang kehilangan kesempatan hanya karena perbedaan latar belakang,” tegasnya.
Forum U25 Leaders Forum PTN-BH 2026 turut dihadiri Plt. Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nur Syarifah, Ketua U25 PTN-BH Prof. Heri Hermansyah, Rektor UGM Prof. Ova Emilia, serta para rektor, wakil rektor, dan dekan dari berbagai PTN-BH di Indonesia. Pertemuan tersebut diharapkan memperkuat sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam mempercepat transformasi pendidikan tinggi yang berdampak bagi kemajuan bangsa.
Sumber: Kantor Staf Presiden (KSP).















