Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Pertambangan

Penambangan Timah di Bangka Belitung: Harmonisasi Keberagaman Etnis yang Terjaga

×

Penambangan Timah di Bangka Belitung: Harmonisasi Keberagaman Etnis yang Terjaga

Sebarkan artikel ini
Caption Foto: Dok-PT Timah

Djituberita com – Bangka Belitung, sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia, tidak hanya menyimpan kekayaan alam yang melimpah, tetapi juga sejarah panjang tentang harmoni keberagaman etnis. Salah satu komunitas yang memiliki peran penting dalam sejarah pertimahan di wilayah ini adalah etnis Tionghoa, yang sejak abad ke-18 telah menjadi bagian dari industri tambang timah.

Sejarah Panjang Etnis Tionghoa dalam Pertambangan Timah:

Menurut Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Dato Akhmad Elvian DPMP, kedatangan pekerja tambang Tionghoa ke Bangka Belitung bermula pada tahun 1722. Saat itu, Sultan Ratu Anom Komaruddin menandatangani kontrak perdagangan timah dengan VOC, yang mengharuskan peningkatan produksi hingga 30 ribu pikul per tahun.

Untuk memenuhi permintaan tersebut, Sultan Mahmud Badaruddin I Jayowikromo pada tahun 1724 mendatangkan pekerja tambang dari berbagai wilayah seperti Vietnam, Laos, Kamboja, Pattani, Johor, dan Semenanjung Malaka. “Pekerja tambang dari China didatangkan karena jumlah timah yang harus disediakan cukup banyak,” ujar Elvian.

Selain menambah jumlah tenaga kerja, kedatangan pekerja Tionghoa juga membawa inovasi dalam teknologi pertambangan, seperti teknik kulit dan kulong kulit. Teknologi ini membutuhkan waktu pembukaan lahan sekitar 7 hingga 8 bulan sebelum timah dapat ditambang, sehingga para pekerja Tionghoa harus menetap di sekitar tambang. Dari sinilah komunitas Tionghoa mulai berkembang dan berasimilasi dengan masyarakat setempat.

Keberlanjutan Peran Etnis Tionghoa dalam Industri Timah:

Sebagai perusahaan yang meneruskan sejarah pengelolaan timah di Indonesia, PT Timah tetap mempertahankan keterlibatan etnis Tionghoa dalam operasionalnya. Keahlian mereka masih dibutuhkan dalam berbagai aspek industri, termasuk posisi Kepala Parit atau parittew, yang memiliki spesialisasi dalam pengelolaan tambang tradisional.

Dalam industri pewter (kerajinan berbahan dasar timah), keahlian masyarakat Tionghoa Bangka juga sangat diperlukan. “Akulturasi dan asimilasi antara orang Tionghoa dengan bumiputera Bangka melahirkan komunitas peranakan yang kini menjadi bagian dari berbagai aktivitas perusahaan, termasuk dalam program CSR PT Timah,” ungkap Elvian.

Ketua Komisi VII DPR RI, Bambang Patijaya, turut menegaskan bahwa etnis Tionghoa memiliki hubungan erat dengan industri pertambangan timah di Bangka Belitung. “Dalam sejarahnya, masyarakat Tionghoa didatangkan ke Bangka Belitung untuk bekerja di sektor pertambangan. Meski saat ini tidak semuanya bekerja di sektor tersebut, nilai sejarahnya tetap melekat,” ujar pria yang akrab disapa BPJ ini.

Harmonisasi Keberagaman yang Terus Dijaga:

Hingga kini, Bangka Belitung menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman etnis dapat terjalin harmonis dalam kehidupan sosial dan ekonomi. PT Timah diharapkan terus berperan dalam menjaga harmoni antar etnis melalui program-program berbasis ekonomi, sosial, dan kebudayaan.

“Saya harap PT Timah ke depan terus bermitra dalam menjaga harmonisasi antar SARA di Bangka Belitung. Sehingga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi dan hubungan sosial semakin erat,” tutup Elvian.

Industri pertambangan timah tidak hanya membentuk ekonomi Bangka Belitung, tetapi juga mengukir sejarah keberagaman yang tetap lestari hingga kini. Keberagaman ini menjadi kekuatan dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat identitas budaya daerah.

Sumber – Humas PT Timah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *