Oleh: Eddy Supriadi
PANGKALPINANG,DJITUBERITA.COM –Suhu politik Pilkada Ulang Pangkalpinang 2025 mulai memanas. Namun bukan di ruang partai atau gedung dewan aroma manuver itu diracik ,melainkan di Warung Kopi Akew, meja 13 Kota Pangkalpinang, Minggu Sore (1/5/2025).
Chemistry politik antara petahana Maulana Aklil (Molen) dan Wakil Ketua DPRD dari Gerindra, Bangun Jaya, mulai diseduh perlahan. Dari secangkir kopi robusta, menguap aroma koalisi yang mungkin mengubah peta politik Bangka Belitung.

Warung Kopi, Laboratorium Politik Rakyat
Meja 13 bukan sekadar tempat ngopi sembari merokok. Di situ, rakyat Pangkalpinang mengolah ide, menyaring kabar, dan melontarkan candaan yang kadang lebih tajam dari debat publik. Sebuah filosofi muncul:
“Politik itu ibarat kopi, jangan terlalu manis—bisa bikin diabetes. Jangan terlalu pahit—nanti orang kabur.”
Chemistry antara Molen dan Bangun bukan hanya dibangun di panggung formal, tapi terlebih dahulu diuji lewat komunikasi kasual yang membumi—sebuah pendekatan yang justru lebih membekas di hati masyarakat.
PDIP & Gerindra: Menyatu atau Cuma Bertukar Cangkir?
PDIP datang dengan kekuatan basis loyal. Gerindra, di sisi lain, punya ambisi besar untuk memecah telur kekalahan di Bangka Belitung—wilayah yang belum pernah menghadiahkan kursi kepala daerah untuk partai berlambang garuda itu. Maka, koalisi ini bisa menjadi “panci presto politik”: penuh tekanan, tapi jika berhasil, meledak dengan hasil gemilang.

Namun, seperti halnya resep yang baik, keberhasilan chemistry ini butuh keseimbangan. PDIP mesti menurunkan ego internalnya, sementara Gerindra harus rela menyesuaikan irama Molen, yang selama ini nyaman bermain sebagai “solo karier” politik.
Duet Tua-Muda dan Daya Tarik Swing Voters
Bangun Jaya menghadirkan unsur segar. Namanya saja sudah seperti slogan kampanye. Energi mudanya berpadu dengan pengalaman Molen sebagai petahana. Duet ini bisa jadi magnet bagi swing voters—asal tak berubah jadi sinetron politik yang dramatis namun minim implementasi.
Secara filosofi, “Membangun” dan “Bangun” adalah dua sisi mata uang: satu adalah gagasan, yang lain adalah tokoh yang membawa nama itu. Namun politik bukan hanya soal keselarasan nama, tapi soal kepercayaan rakyat pada perubahan nyata.
Panggung Rakyat: Antara Humor dan Harapan
Pilkada ini, pada akhirnya, akan diuji di ruang-ruang obrolan publik. Di warung kopi, di pasar, di jalanan. Bukan hanya survei dan baliho yang berbicara, tapi gelak tawa, kelakar, dan keluhan warga.
Bagi Gerindra, ini mungkin jalan pembuka menuju sejarah kemenangan perdana di Babel. Bagi Molen, ini ujian: apakah ia masih dirindukan rakyat atau hanya nostalgia yang mulai basi.
Dan bagi rakyat Pangkalpinang, pertanyaannya sederhana:
Apakah chemistry politik ini akan menghasilkan pembangunan nyata atau hanya jadi aroma kopi yang cepat menguap?
Catatan Redaksi:
Pilkada Ulang Pangkalpinang 2025 akan menjadi momen krusial dalam menentukan arah kota Pangkalpinang kedepannya.namun tetap kritis, mencermati setiap janji politik, dan memastikan bahwa koalisi tidak hanya hangat di meja 13, tapi nyata terasa aromanya di masyarakat kota Pangkalpinang.(*)















