Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita NasionalBerita Utama

Irjen Pol Andry Wibowo Orasi Ilmiah di UIC: Bahas Generasi Unggul Era AI, 520 Wisudawan dan 125 Anggota Polri

229
×

Irjen Pol Andry Wibowo Orasi Ilmiah di UIC: Bahas Generasi Unggul Era AI, 520 Wisudawan dan 125 Anggota Polri

Sebarkan artikel ini
Irjen Pol Andry Wibowo menyampaikan orasi ilmiah pada Sidang Terbuka Pimpinan Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta, Selasa (6/10/2026). Kegiatan tersebut merupakan rangkaian wisuda Program Sarjana dan Magister Tahun Akademik 2025–2026.

DJITUBERITA,JAKARTA – Irjen Pol. Dr. H. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si., Analis Kebijakan Utama Bidang Jianbang Lemdiklat Polri, menyampaikan orasi ilmiah dalam sidang terbuka pimpinan Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta untuk Program Sarjana dan Magister Tahun Akademik 2025–2026, Selasa (6/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Andry Wibowo mengangkat tema “Membangun Generasi Unggul, Berintegritas, Prediktif, Berkarakter dan Menyiapkan Pemimpin Masa Depan yang Tangguh di Era Transformasi Global.”

Orasi ilmiah tersebut menempatkan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sebagai salah satu perubahan penting yang harus dipahami sekaligus diantisipasi oleh generasi masa depan.

Andry menegaskan, pendidikan tidak semestinya hanya dipandang sebagai proses memperoleh ijazah atau gelar. Pendidikan harus menjadi proses pembentukan manusia yang mampu berpikir, bekerja, mengambil keputusan, sekaligus mempertanggungjawabkan setiap pilihan yang dibuat.

Menurutnya, generasi mahasiswa yang saat ini menempuh pendidikan pada akhirnya akan menerima tanggung jawab kepemimpinan bangsa. Karena itu, kampus memiliki peran strategis dalam membangun kompetensi sekaligus kualitas moral generasi penerus.

Tantangan Generasi AI

Dalam orasinya, Andry Wibowo memotret perubahan dunia yang berlangsung cepat. Disrupsi teknologi, AI, otomatisasi, perubahan lanskap pekerjaan global, ancaman siber, hoaks dan fake news, perundungan, hingga menurunnya kepedulian sosial disebut hadir secara bersamaan.

Perubahan tersebut, menurutnya, tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan teknologi. Pergeseran relasi manusia dengan teknologi informasi, ledakan demografi, keterbatasan daya dukung alam, serta kompetisi yang semakin ketat juga menjadi bagian dari tantangan generasi masa depan.

Karena itu, pertanyaan mendasar bagi generasi muda bukan hanya seberapa tinggi pencapaian akademiknya atau seberapa cepat menguasai teknologi.
Lebih jauh, generasi masa depan perlu memahami untuk apa pengetahuan digunakan, bagaimana keputusan dibuat, serta nilai apa yang menjadi batas dalam menggunakan kemampuan yang dimiliki.

“Pintar saja tidak lagi cukup; kita butuh generasi yang utuh.”

AI Mengubah Cara Manusia Belajar dan Bekerja

Salah satu bagian utama orasi Andry Wibowo adalah transformasi kecerdasan buatan.

Ia menjelaskan, AI bukan hanya teknologi yang membuat pekerjaan menjadi lebih cepat. Teknologi tersebut berpotensi mengubah cara manusia belajar, bekerja, menganalisis informasi, mengambil keputusan, menciptakan sesuatu, hingga merancang masa depan.

Dalam materi orasi, perkembangan AI dijelaskan melalui tiga tahap penting, yakni machine learning, deep learning, dan generative AI.

Machine learning memungkinkan sistem belajar dari data tanpa pemrograman eksplisit untuk setiap keputusan. Deep learning menggunakan jaringan saraf berlapis untuk memproses pola data yang kompleks. Sementara generative AI mampu menghasilkan berbagai bentuk konten baru, termasuk teks, gambar, dan kode.

Perubahan tersebut juga berdampak terhadap dunia kerja.

Andry memetakan sedikitnya tiga pola perubahan, yakni otomatisasi, ketika AI mengambil alih pekerjaan yang berulang dan berbasis aturan; augmentation, ketika AI menjadi asisten yang meningkatkan kemampuan manusia, serta penciptaan peran baru, yang melahirkan kebutuhan terhadap kompetensi seperti data scientist, machine learning engineer, dan AI ethics consultant.

“Karena itu, pertanyaan bagi mahasiswa bukan lagi apakah AI akan hadir. AI sudah hadir dihadapan kita”

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah manusia akan menjadi pengguna pasif, korban perubahan, atau mampu mengarahkan perubahan tersebut untuk kemanfaatan. Jawabannya, menurut Andry, ditentukan oleh kesiapan untuk terus belajar.

Generasi Unggul Harus Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Andry menjelaskan bahwa generasi unggul merupakan generasi yang memiliki kompetensi tinggi, daya saing global, serta semangat belajar sepanjang hayat.

Karena itu, literasi masa depan perlu diperluas, tidak hanya mencakup satu bidang keilmuan. Generasi muda perlu membangun literasi sains, teknologi, finansial, dan data, sekaligus memiliki kemampuan berpikir kreatif serta inovatif untuk menghadapi persoalan yang semakin kompleks.

Ia juga menekankan pentingnya mentalitas pembelajar.

Kegagalan tidak semestinya dipandang sebagai akhir perjalanan. Dalam dunia yang berubah cepat, seseorang justru dituntut mampu belajar kembali, memperbaiki diri, meningkatkan kapasitas, serta mengubah pengalaman menjadi pengetahuan dan pengetahuan menjadi tindakan yang lebih baik”kata Andry di hadapan audiens.

Integritas Menjadi Kompas Moral

Di tengah kemajuan teknologi, Andry menempatkan integritas sebagai kompas moral yang tidak boleh diserahkan kepada teknologi.

Integritas dimaknai sebagai keselarasan antara pikiran, perkataan, dan tindakan, termasuk kemampuan melakukan hal yang benar ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Dalam lingkungan akademik, integritas diwujudkan melalui kejujuran akademik, penolakan terhadap plagiarisme, tanggung jawab atas hasil kerja, serta keberanian menyampaikan kebenaran.

Sementara dalam kehidupan profesional, integritas berarti tidak mengorbankan prinsip karena tekanan, kepentingan sesaat, maupun peluang keuntungan.

Di era AI, persoalan tersebut menjadi semakin penting karena teknologi telah mampu menghasilkan tulisan, gambar, analisis, dan berbagai bentuk konten dengan cepat.

Karena itu, kemampuan memanfaatkan teknologi harus tetap diikuti tanggung jawab manusia.

Mendorong Pola Pikir Prediktif

Selain kompetensi dan integritas, Andry menekankan pentingnya kemampuan berpikir prediktif.

Berpikir prediktif berarti mampu membaca tren, menganalisis risiko, serta mengantisipasi perubahan sebelum berkembang menjadi krisis.

Keputusan juga perlu semakin berbasis data dan fakta empiris, bukan semata-mata asumsi atau perasaan.

Pola pikir tersebut mendorong perubahan dari pendekatan reaktif menjadi proaktif, dengan membangun mitigasi, menyiapkan skenario, dan memiliki peta jalan kehidupan untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Namun, berpikir prediktif bukan berarti manusia dapat mengetahui masa depan secara pasti. Kemampuan tersebut lebih diarahkan untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan.

Karakter Menjaga Kemajuan Tetap Humanis

Andry juga menempatkan karakter sebagai fondasi agar kompetensi dan teknologi tidak kehilangan arah.
Karakter yang kuat, menurutnya, tercermin melalui religiusitas dan nasionalisme, ketangguhan menghadapi kesulitan, empati, kemampuan berkolaborasi, serta penghargaan terhadap perbedaan.

Resiliensi membuat seseorang mampu bangkit dari kegagalan. Empati menjaga manusia agar tidak kehilangan sisi kemanusiaan ketika mengejar prestasi. Sementara kolaborasi mengajarkan bahwa persoalan besar tidak dapat diselesaikan seorang diri.

Tiga Pilar Membentuk Generasi Emas

Dalam orasi tersebut, Andry menegaskan bahwa pembentukan generasi masa depan bukan pekerjaan satu institusi.

Terdapat tiga lingkungan utama yang menjadi pilar pembentukan generasi emas, yaitu keluarga, lembaga pendidikan, serta masyarakat dan ruang digital.

Keluarga menjadi fondasi awal penanaman kasih sayang, moralitas, dan etika. Kampus menjadi ruang transfer ilmu pengetahuan, penguatan karakter, dan pembentukan kepemimpinan. Sedangkan masyarakat dan ruang digital menjadi ruang aktualisasi diri yang sehat serta mendukung kreativitas dan inovasi.

Ketiganya harus saling menguatkan agar generasi muda dapat berkembang secara utuh.

Mahasiswa Dipersiapkan Menjadi Pemimpin

Dalam konteks kepemimpinan, Andry menegaskan bahwa pemimpin masa depan tidak lahir hanya karena jabatan.
Kepemimpinan dibangun dari kebiasaan sehari-hari, seperti disiplin, keberanian bertanggung jawab, kemampuan mendengar, kemampuan bekerja bersama, dan kesediaan untuk terus belajar.

Karena itu, mahasiswa didorong untuk tidak menunggu memperoleh jabatan untuk mulai memimpin.

Memimpin dapat dimulai dari diri sendiri, memimpin waktu, cara belajar, penggunaan teknologi, dan integritas pribadi.

Lima Pesan Andry di Era AI

Dalam bagian khusus mengenai era AI, Andry menyampaikan lima pesan kepada mahasiswa.

Pertama, jangan takut terhadap AI, tetapi jangan pula menyerahkan seluruh kemampuan berpikir kepada AI.

Kedua, kuasai teknologi tanpa kehilangan nilai, karena semakin besar kemampuan teknologi, semakin besar pula tanggung jawab moral yang menyertainya.

Ketiga, bangun reputasi melalui integritas.

Keempat, belajar membaca masa depan, termasuk memahami konsekuensi perkembangan teknologi, ekonomi, sosial, keamanan, dan lingkungan dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Kelima, tetap menjadi manusia, dengan menjaga empati, menghargai perbedaan, bekerja sama, dan menjaga martabat manusia.

Masa Depan Harus Dirancang

Pada bagian akhir orasi ilmiahnya, Andry mengajak mahasiswa menjadikan kampus bukan sekadar tempat memperoleh pengetahuan, tetapi sebagai laboratorium kehidupan untuk membangun kompetensi, integritas, kemampuan berpikir prediktif, dan karakter.

Ia menegaskan, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh perkembangan teknologi, tetapi oleh manusia yang menggunakan teknologi tersebut.

Karena itu, generasi masa depan diharapkan tidak sekadar mampu mengikuti perubahan, tetapi juga mampu memimpin perubahan, tidak hanya cerdas, tetapi memiliki integritas, tidak hanya cepat, tetapi mampu memprediksi, serta tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi memiliki karakter untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Orasi ditutup dengan pesan:

“Masa depan tidak untuk ditunggu, melainkan dirancang dari sekarang oleh tangan-tangan yang unggul dan berkarakter”.

Diikuti 520 Wisudawan, 125 di Antaranya Anggota Polri

Sidang terbuka pimpinan UIC tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Ibnu Chaldun beserta jajaran sivitas akademika, Ketua Yayasan UIC, Rektor UIN Hidayatullah Prof. Asep, perwakilan Dikti Dr. Hendri Tambunan, serta undangan dari unsur TNI, Polri, pemerintah daerah dan DPRD DKI Jakarta.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 520 mahasiswa terwisuda, dengan 125 orang di antaranya merupakan anggota Polri, berdasarkan laporan kegiatan yang disampaikan kepada Kalemdiklat Polri.

Kehadiran peserta dari berbagai unsur tersebut turut memberikan konteks bahwa forum akademik UIC menjadi ruang pertemuan antara dunia pendidikan, pemerintahan, serta unsur TNI dan Polri.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *