Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita DaerahBerita Utama

Pedagang Pasar Toboali Merana, Panggung Sandiwara Justru Ramai Diperbincangkan

×

Pedagang Pasar Toboali Merana, Panggung Sandiwara Justru Ramai Diperbincangkan

Sebarkan artikel ini
Kondisi terkini Pasar Toboali tampak sepi pembeli, pedagang bertahan di tengah lesunya ekonomi, ironisnya panggung di luar justru kian riuh diperbincangkan. Foto Istimewa Djituberita.com

Toboali, Bangka Selatan – Di tengah lesunya aktivitas ekonomi di Pasar Kota Toboali Kabupaten Bangka Selatan Provinsi kepulauan Bangka Belitung perhatian publik justru ramai tersedot pada hiruk-pikuk panggung sandiwara dan tarik-menarik kursi.

Sebuah paradoks yang terasa nyata ketika pedagang berkeluh kesah, panggung pencitraan justru riuh diperbincangkan di ruang publik ataupun kedai-kedai kopi.

Pantauan di lapangan redaksi media Djituberita.com. suasana pasar terlihat lengang. Lapak-lapak masih dipenuhi kebutuhan pokok, namun pembeli jauh berkurang. Para pedagang bertahan dengan kondisi yang kian menekan, bahkan tak sedikit yang harus menanggung kerugian harian.

Anun, salah satu pedagang, mengungkapkan keluhannya dengan nada sederhana.

“Sekarang ini sepi, Bukan karena harga mahal, tapi orangnya memang jarang yang beli. Kami jual ini kan kebutuhan sehari-hari, harusnya tetap jalan,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini membuat pedagang berada dalam posisi sulit.
“Modal tiap hari keluar, tapi baliknya nggak seberapa. Kadang malah nombok. Mau gimana lagi, kami tetap harus jualan,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan Elis. Ia menilai turunnya daya beli masyarakat berkaitan dengan melemahnya komoditas unggulan daerah.

“Mungkin karena timah sama sawit lagi turun, jadi orang pegang uang juga susah. Biasanya ramai, sekarang beda jauh,” katanya.

“Harga bahan- bahan rumah tangga  masih normal, naik turun dikit biasa. Tapi pembeli itu yang hilang, itu yang bikin kami resah,” jelasnya.

Melemahnya sektor timah dan sawit yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Bangka Selatan diduga kuat menjadi penyebab utama. Perputaran uang di masyarakat melambat, dan dampaknya langsung terasa di pasar tradisional sebagai indikator roda perekonomian daerah.

Namun di tengah kondisi tersebut, sorotan justru lebih banyak tertuju pada dinamika “panggung” yang dipenuhi perbincangan, manuver, dan tarik-menarik kepentingan. Panggung yang ramai oleh suara, tetapi sepi dari solusi nyata bagi pedagang kecil.

Sindiran pun mengemuka. Saat pedagang berjuang agar dagangan tetap laku, ada pihak-pihak yang justru lebih sibuk merawat citra dan mencari kamera android  untuk jadi sorotan utama media.

Kursi diperebutkan dengan penuh ambisi, sementara kursi kosong di depan lapak pedagang menjadi simbol sepinya pembeli.

Bagi pedagang seperti Anun dan Elis, kebutuhan mereka sederhana.
“Harapan kami ya sederhana, pembeli kembali ramai. Kalau begini terus, berat kami bertahan,” tutup para pedagang.

Pasar Toboali hari ini menjadi cermin bahwa ketika ekonomi riil melemah, rakyat kecil menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya. Dan ketika perhatian lebih banyak tersedot ke panggung sandiwara nan penuh banyolan, maka jeritan pelan dari pasar berisiko terus terabaikan.

Oleh karena itu, kondisi ini semestinya menjadi pengingat bersama bahwa yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar riuhnya perbincangan yang tak menyentuh akar persoalan,melainkan yang mampu menghidupkan kembali roda ekonomi di tingkat bawah. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *