Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
ArtikelBerita Utama

Simulakra Politik: Ketika Citra di Media Sosial Mengalahkan Nurani

×

Simulakra Politik: Ketika Citra di Media Sosial Mengalahkan Nurani

Sebarkan artikel ini
Foto: Eddy Supriadi, MPd — Akademisi sekaligus mantan birokrat, menyuarakan kritik tajam atas ilusi kekuasaan di era media sosial

Penulis: Eddy Supriadi, M.Pd (Akademisi Babel/Mantan Birokrat)

Opini,Djituberita.com – Di tengah derasnya arus digital dan hingar-bingar demokrasi yang semakin spektakuler, kita tak lagi sekadar hidup di antara realitas dan harapan. Kita hidup di antara citra dan bayang-bayang.

Sosok pemimpin kini hadir bukan di lapangan, melainkan di layar-layar kita. Ia menyapa anak-anak, menabur senyum, mengutip ayat, dan menyuarakan kepeduliaan, semuanya melalui lensa kamera dan caption penuh hikmah. Namun sayangnya, yang dihadirkan bukanlah kepedulian yang dirasakan, melainkan yang bisa ditampilkan.

Kamera Bukan Lagi Penjaga Keamanan, Tapi Pengukuh Citra

Langkah mereka selalu dikawal kamera, bukan untuk menjaga keselamatan, melainkan menjaga pencitraan. Pemimpin masa kini tak ubahnya aktor utama dalam sinetron politik yang ditulis, disutradarai, dan dibintangi oleh dirinya sendiri.

Dalam dunia yang telah terjerumus ke dalam simulakra, konsep yang dipopulerkan oleh filsuf Jean Baudrillard, realitas bukan lagi pijakan utama. Yang ada hanyalah representasi yang terus-menerus menyalin dirinya sendiri hingga kehilangan makna aslinya. Kepemimpinan menjadi panggung, bukan pengabdian. Dan rakyat? Hanya penonton yang dibius narasi.

Tangis Rakyat Tak Estetik? Lewat Saja.

Bencana, kesusahan, dan derita rakyat hanya layak ditolong jika bisa dijadikan konten. Bantuan yang tak bisa di-edit, tak bisa diviralkan, dibatalkan. Sementara empati dikirim lewat drone, pelukan duka dilakukan sambil mencuri pandang ke feed engagement.

Inilah wajah simulakra politik—di mana kemiskinan dipoles agar terlihat menyentuh, dan penderitaan dijadikan latar untuk menambah simpati. Politik tak lagi bicara visi, tapi visualisasi. Debat bukan soal isi, tapi gaya tubuh. Rakyat tidak memilih pemimpin, melainkan memilih “image”.

Ketika Bayang-Bayang Mengalahkan Wajah

Lebih mengkhawatirkan lagi, publik pun kini larut dalam ilusi. Mereka tidak lagi menuntut kebenaran, cukup merasa terwakili secara simbolik.

Kepuasan diperoleh dari tanda-tanda, bukan tindakan. Lembaga survei menjadi pabrik persepsi, bukan pembaca kenyataan. Kampanye adalah naskah panjang penuh editan dan rekayasa.

Di tengah semua ini, masyarakat mulai permisif. Sinis, apatis, dan tak lagi peduli siapa yang benar-benar bekerja. Ketika bayangan bisa menang, maka wajah-wajah yang tulus akan selalu tenggelam.

Saatnya Membongkar Panggung

Barangkali, solusi kita bukan sekadar pendidikan politik. Tapi pembongkaran panggung. Menghapus tata rias kekuasaan, membuka ilusi satu per satu, dan kembali pada kesunyian realitas yang kerap dikubur oleh gemuruh tanda-tanda.

Karena pada akhirnya, ketika topeng itu jatuh, tak ada filter yang bisa menyelamatkan rupa yang sebenarnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *