Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita Daerah

Mangrove Desa Kumbung Diduga Dirusak Alat Berat, Perusahaan Berdalih Perbaikan Tanggul

×

Mangrove Desa Kumbung Diduga Dirusak Alat Berat, Perusahaan Berdalih Perbaikan Tanggul

Sebarkan artikel ini
Peta Pulau Lepar dan aktivitas alat berat di kawasan mangrove Desa Kumbung, Kecamatan Lepar Pongok, Bangka Selatan, yang viral dan disorot warga karena diduga merusak ekosistem mangrove. (Foto: tangkapan layar @1.super.2, 13 Desember 2025)

Pulau Lepar,Bangka Selatan – Aktivitas alat berat di kawasan hutan mangrove Desa Kumbung, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan, menuai sorotan tajam publik. Sebuah video yang diunggah akun TikTok @1.super.2 pada 13 Desember 2025 memperlihatkan satu unit excavator beroperasi di rawa pesisir yang diduga merupakan kawasan mangrove dilindungi.

Dalam rekaman tersebut, alat berat tampak melakukan pengerukan dan pembukaan lahan di area yang berada sangat dekat dengan bibir pantai. Visual ini memicu kekhawatiran warga atas rusaknya ekosistem mangrove yang selama ini berfungsi sebagai benteng alami pesisir sekaligus sumber penghidupan masyarakat.

Baca Juga Selengkapnya: Viral! Hutan Mangrove Tumbuh Sawit, Warga Desa Kumbung Lepar Menjerit

Baca Selengkapnya: Mangrove Dikeruk Diduga Jadi Sawit, Kades Kumbung Akui Sudah Hubungi PT SNS

Kepala Desa Kumbung, Arfan, mengaku tidak mengetahui secara langsung aktivitas tersebut. Namun setelah menerima laporan warga, ia menghubungi pihak perusahaan perkebunan sawit PT Swarna Nusa Sentosa (SNS).

Menurut Arfan, pihak perusahaan menyampaikan bahwa kegiatan alat berat itu hanya bertujuan memperbaiki tanggul yang mengalami kerusakan.

“Saya sudah menghubungi pihak PT. Mereka menyampaikan hanya melakukan perbaikan tanggul yang rusak,” ujar Arfan.

Meski demikian, Arfan memastikan akan turun langsung ke lokasi untuk mengecek kondisi lapangan dan memastikan kebenaran penjelasan tersebut.

Namun, klaim perusahaan itu dinilai tidak sejalan dengan fakta visual dalam video yang beredar. Perekam video, yang mengaku warga setempat, menunjukkan kondisi kawasan mangrove yang disebut telah rusak parah, dengan alat berat masih aktif bekerja di rawa pesisir.

“Kalau bukan habitat mangrove, sawit tidak akan tumbuh di rawa. Ini jelas kawasan mangrove,” ujar perekam video tersebut.

Lebih jauh, aktivitas itu disebut hanya berjarak sekitar 20 meter dari bibir pantai, jarak yang dinilai sangat rawan dan berpotensi melanggar ketentuan perlindungan wilayah pesisir dan lingkungan hidup.

Dampak kerusakan mangrove, menurut warga, sudah mulai dirasakan. Ekosistem yang selama ini menjadi tempat hidup kepiting dan ikan kini terganggu, mengancam mata pencaharian masyarakat pesisir.

“Dulu kepiting dan ikan mudah didapat. Sekarang susah. Mau makan apa? Semua sudah dikuasai perusahaan,” keluh seorang warga dengan nada emosional.

Sementara itu, pihak PT Swarna Nusa Sentosa (SNS) membantah tudingan perusakan mangrove. Perwakilan perusahaan, Tito Napitupulu, menegaskan bahwa aktivitas tersebut murni bertujuan memperbaiki tanggul yang jebol guna mencegah banjir rob.

“Kami memperbaiki tanggul yang jebol agar kawasan mangrove tidak terdampak banjir rob,” ujar Tito.

Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat klarifikasi tertulis resmi dari PT SNS terkait lokasi pasti pekerjaan alat berat tersebut dan status kawasan yang dikerjakan. Tim redaksi akan terus memantau perkembangan, termasuk hasil peninjauan lapangan yang dijanjikan Kepala Desa Kumbung.(red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *