Jakarta – Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, saat memberikan kuliah umum di Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Lemdiklat Polri pada 9 Maret 2026 memicu diskusi luas di ruang publik.
Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan bahwa anggota kepolisian bekerja siang dan malam menjaga keamanan masyarakat, meskipun kerap dinilai tidak becus oleh sebagian publik.
Pernyataan tersebut menjadi viral dan kembali membuka perdebatan lama dalam kehidupan bernegara: apakah masyarakat benar-benar memahami beratnya tugas menjaga keamanan, atau hanya melihat polisi dari potongan peristiwa yang paling ramai di media sosial.
Di tengah arus kritik tersebut, Ir. R. Haidar Alwi, MT, Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, sekaligus Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, mengingatkan agar masyarakat tidak melihat institusi kepolisian hanya dari sisi negatifnya.
Menurut Haidar Alwi, stabilitas negara tidak hadir secara kebetulan. Stabilitas tersebut dijaga setiap hari oleh institusi keamanan yang bekerja di balik layar, sering tanpa sorotan publik, dan kerap tanpa apresiasi.
“Dalam psikologi sosial ada konsep yang disebut availability bias, yaitu kecenderungan manusia menilai suatu institusi berdasarkan peristiwa yang paling mudah diingat. Satu kasus yang viral bisa menutupi ribuan pekerjaan polisi yang berjalan baik setiap hari,” ujar Haidar Alwi keterangan tertulis,Rabu (11/3/2026).
Ia menilai fenomena ini semakin kuat di era media sosial, ketika informasi bergerak sangat cepat dan sering didorong oleh emosi dibanding pemahaman yang utuh. Akibatnya, satu peristiwa dapat membentuk opini besar terhadap sebuah institusi yang sebenarnya memiliki peran jauh lebih kompleks dalam kehidupan masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat umumnya melihat polisi hanya ketika terjadi masalah. Ketika ada kecelakaan, konflik sosial, atau tindak kriminal, polisi hadir sebagai pihak yang harus menyelesaikan situasi tersebut.
Namun ketika situasi berjalan aman dan tertib, jarang ada yang bertanya siapa yang menjaga keadaan tetap kondusif.
“Dalam studi keamanan negara dikenal prinsip the invisible success of security. Keberhasilan terbesar aparat keamanan justru terjadi ketika ancaman berhasil dicegah sebelum menjadi krisis,” jelasnya.
Fenomena ini membuat pekerjaan polisi sering berada dalam situasi paradoks. Ketika bertindak tegas, sebagian orang menilai tindakan tersebut berlebihan. Namun ketika situasi terlihat tenang, muncul anggapan bahwa polisi tidak bekerja.
Padahal sebagian besar tugas kepolisian berada pada wilayah pencegahan meredam konflik sebelum membesar, mengatur ketertiban sebelum terjadi kekacauan, serta menjaga stabilitas sosial agar masyarakat dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan aman.
Pengabdian Sunyi Polisi
Haidar Alwi menilai kehidupan aparat di lapangan jauh dari gambaran yang sering muncul di media sosial. Polisi bekerja dalam ritme yang tidak mengenal jam kerja konvensional.
Mereka bertugas ketika masyarakat tidur, berjaga saat orang lain beristirahat, dan kerap meninggalkan keluarga demi menjalankan tugas negara.
Pada bulan Ramadhan misalnya, masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang, berbuka puasa bersama keluarga, hingga melaksanakan salat tarawih tanpa gangguan. Di saat yang sama, polisi berjaga di jalan, mengatur lalu lintas di sekitar masjid, serta memastikan aktivitas masyarakat berjalan aman.
“Dalam psikologi moral ada konsep prosocial duty, yaitu dorongan seseorang untuk melindungi kepentingan orang lain meskipun harus mengorbankan kenyamanan pribadi. Profesi kepolisian berdiri di atas prinsip itu,” ujarnya.
Pengabdian semacam ini jarang menjadi sorotan pemberitaan, padahal polisi juga hadir saat bencana alam, membantu evakuasi korban kecelakaan, hingga meredam konflik sosial sebelum berubah menjadi kekerasan yang lebih besar.
Sejak Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menjabat Kapolri pada 2021, Polri diarahkan melalui konsep Presisi: Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan.
Pendekatan ini menekankan pentingnya profesionalitas dan kemampuan membaca potensi gangguan keamanan sebelum berkembang menjadi krisis.
“Kepercayaan publik terhadap aparat keamanan tidak lahir dalam satu hari.Ia tumbuh dari konsistensi, transparansi, dan keberanian untuk terus memperbaiki diri,” tegas Haidar Alwi.
Sebagai pencetus Gerakan Nasional Rakyat Bantu Rakyat, Haidar Alwi menilai hubungan antara masyarakat dan aparat keamanan perlu dibangun di atas rasa saling memahami.
Menurutnya, polisi membutuhkan dukungan masyarakat untuk menjalankan tugas secara efektif, sementara masyarakat membutuhkan aparat yang profesional untuk menjaga keamanan bersama.
“Negara yang stabil bukanlah negara yang bebas dari kritik, tetapi negara yang mampu menjaga keseimbangan antara kebebasan dan ketertiban. Polisi bukan malaikat yang tanpa kekurangan, tetapi tanpa keberadaan mereka rasa aman yang kita nikmati setiap hari akan jauh lebih rapuh,” pungkasnya. (Rilis)















