Banten – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan bahwa jurnalisme memiliki peran krusial dalam menjaga keaslian dan kredibilitas informasi publik di tengah derasnya peredaran konten sintetis berbasis kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) yang kian sulit dibedakan dari peristiwa nyata.
Hal tersebut disampaikan Nezar dalam Forum Kolaborasi Dewan Pers dan Google News Initiative yang digelar di Serang, Banten, Senin (9/2/2026).
Menurut Nezar, perkembangan teknologi AI telah mengubah secara signifikan lanskap industri media sekaligus pola konsumsi informasi masyarakat. Foto, video, hingga teks hasil rekayasa AI kini beredar luas di berbagai platform digital dan media sosial, sehingga membuat publik termasuk mereka yang sudah melek digital menjadi semakin rentan terkecoh.
Konten sintetis hari ini sangat mirip dengan aslinya. Bahkan orang yang terlatih pun bisa keliru. Di sinilah publik membutuhkan jurnalisme yang bekerja dengan disiplin verifikasi,” ujar Nezar.
Ia menilai tantangan utama di era digital saat ini bukan lagi kelangkaan informasi, melainkan krisis kepercayaan. Algoritma dan sistem personalisasi, kata dia.
Mendorong publik mengonsumsi informasi yang terfragmentasi sesuai preferensi masing-masing, bukan gambaran utuh dari suatu peristiwa.
Informasi hari ini melimpah. Yang justru langka adalah kepercayaan. Dan kepercayaan itu hanya bisa dijaga oleh jurnalisme yang berintegritas,” tegasnya.
Nezar juga menekankan bahwa AI pada dasarnya tidak memiliki insting verifikasi. Teknologi hanya bekerja berdasarkan perintah manusia dan tidak mampu secara mandiri memastikan apakah suatu informasi bersifat otentik atau sekadar simulasi.
AI tidak akan melakukan verifikasi kalau tidak diminta. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme profesional dengan konten otomatis,” katanya.
Oleh karena itu, ia menegaskan pemanfaatan AI di industri media harus ditempatkan sebagai alat bantu produksi, bukan sebagai pengambil keputusan editorial.
Manusia tetap harus menjadi pusat dalam menentukan kebenaran, konteks, serta dampak informasi bagi publik.
Jurnalisme adalah layanan publik.
Di tengah dominasi algoritma dan AI, keberpihakan pada kebenaran dan hak warga tidak boleh hilang,” ujar Nezar.
Dalam konteks kebijakan, Nezar menyatakan pemerintah mendukung pembangunan ekosistem media yang sehat, yang melibatkan jurnalis, industri media, serta platform digital. Tujuannya agar jurnalisme berkualitas dapat bertahan secara ekonomi tanpa mengorbankan fungsi utamanya sebagai pelayan kepentingan publik.
Ia juga menyinggung pengalaman media global seperti The New York Times yang dinilai mampu bertahan di tengah disrupsi teknologi dengan tetap menjaga kualitas jurnalistik.
Publik terbukti bersedia membayar bukan sekadar untuk berita, tetapi untuk kredibilitas,” pungkas Nezar.(rilis)















