Artikel – Pemerintah pusat kembali mengingatkan pemerintah daerah agar hidup sederhana. Anggaran dipangkas, belanja ditekan, dan setiap rupiah diminta dihitung dengan hati-hati. Kata kuncinya efisiensi.
Sebuah mantra yang kini wajib dihafal kepala daerah, bahkan sebelum mereka hafal visi-misi sendiri.
Namun, mantra itu tampaknya hanya berlaku satu arah.
Saat daerah sibuk memangkas anggaran operasional, pemerintah pusat justru tampak nyaman berbelanja. Agenda nasional tetap berbiaya tinggi, perjalanan dinas tetap berjalan, dan proyek dan program besar terus melaju tanpa rem darurat.
Hemat rupanya penting asal tidak diterapkan di pusat kekuasaan.
Ketimpangan ini membuat instruksi penghematan terdengar seperti satir kebijakan. Daerah diminta kreatif dengan dana cekak, sementara pusat memberi contoh betapa fleksibelnya makna efisiensi jika berada di level atas.
Jika ini pelajaran fiskal, maka pusat sedang mengajar dengan metode “jangan tiru kami”.
Akibatnya bisa ditebak. Pemerintah daerah terpaksa menunda program layanan publik, memangkas kegiatan sosial, hingga mengorbankan pembangunan dasar.
Semua demi patuh pada perintah irit. Di sisi lain, pusat tetap tampil dengan anggaran tebal dan narasi penghematan.
Publik pun bertanya, apakah efisiensi hanya alat disiplin untuk daerah? Ataukah sekadar jargon anggaran yang gugur begitu mendekati gedung-gedung kementerian?
Jika pusat tak kunjung memberi contoh, seruan irit hanya akan menjadi formalitas. Dan rakyat kembali belajar satu hal lama dalam urusan penghematan, yang dekat kekuasaan selalu punya pengecualian.















