Tutup
Djitu Berita
WhatsApp Image 2024-02-01 at 14.25.18
PlayPause
Berita UtamaJakarta

Buku “Lawar Leadership” Mendapat Respons Positif

×

Buku “Lawar Leadership” Mendapat Respons Positif

Sebarkan artikel ini
Suasana Dialog Kepemimpinan dan Bedah Buku Lawar Leadership dalam rangka HUT ke-58 Prajaniti Hindu Indonesia di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (21/6/2026). Foto: Dok. Prajaniti.

DJITUBERITA,JAKARTA – Rangkaian perayaan HUT ke-58 Prajaniti Hindu Indonesia berlangsung meriah melalui sejumlah kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial yang digelar di berbagai pura. Kegiatan tersebut dipimpin panitia yang diketuai duet Made Widhi Adnyana dan Heny Herawati.

Acara diawali dengan syukuran di Pura Agung Tirta Bhuawan, Bekasi, pada Jumat (19/6/2026), yang diisi sembahyang bersama dan pemotongan tumpeng. Selanjutnya, pada Minggu (21/6/2026), digelar Dialog Kepemimpinan dan Bedah Buku Lawar Leadership di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta Timur. Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan penanaman pohon bunga di lingkungan Pura Parahyangan Agung Jagat Pasundan, Bekasi, pada Minggu (28/6/2026).

Dialog Kepemimpinan dan Bedah Buku Lawar Leadership menghadirkan keynote speaker Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr.(Han.) serta penulis buku I Made Arya Amitaba, S.E., M.M. Kegiatan yang didukung BPR Kanti tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Setiap peserta yang hadir memperoleh satu eksemplar buku Lawar Leadership dan kaos yang didonasikan oleh BPR Kanti.

Sejumlah tokoh Hindu nasional turut hadir, di antaranya Dirjen Bimas Hindu Prof. Nengah Duija, Ketua Umum PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya, pakar kepemimpinan Lemhannas Mayjen TNI (Purn) Dr. I Putu Sastra Wingata, S.I.P., M.Sc., mantan Ketua Umum PHDI Pusat S.N. Suwisna, Ketua Grand Desain Hindu Nyoman Agus Asrama, Ketua Forum Alumni KMHDI I Ketut Wiriana, Ketua Badan Kesehatan Hindu drg. Nyoman Suartanu, Sekretaris Umum PHDI Pusat Ketut Budiasa, serta Ketua Umum Perkumpulan Pendidik Pasraman Indonesia (P3I) Dr. I Made Pande Cakra, M.Si.

Dalam sambutannya, Ketua Umum Prajaniti KS Arsana menyampaikan kilas balik perjalanan organisasi yang kini telah berusia lebih dari setengah abad. Menurutnya, Prajaniti pernah mengalami masa vakum cukup panjang sebelum direvitalisasi pada 2013.

“Ibarat Arjuna dalam epos Mahabharata yang pada awal kisahnya mengalami keraguan dan tidak ingin berperang, kondisi serupa pernah dialami Prajaniti. Setelah direvitalisasi pada 2013, organisasi ini mulai bangkit dan kembali menunjukkan eksistensinya,” ujar KS Arsana.

Ia menjelaskan, dalam dua tahun terakhir Prajaniti memfokuskan programnya pada Gerakan Ekonomi dan Gerakan Pendidikan. Program tersebut diwujudkan melalui pendampingan pembentukan koperasi dengan tata kelola profesional serta penyelenggaraan bimbingan belajar gratis bagi siswa SD dan SMP.

Pada sesi keynote speech, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa memaparkan materi bertajuk “Kepemimpinan Berakar pada Budaya dan Dharma”. Ia menekankan pentingnya nilai-nilai kearifan lokal dan dharma sebagai fondasi utama dalam membangun kepemimpinan yang berkelanjutan.

“Pemimpin yang memiliki karakter dharma akan menciptakan stabilitas dan kemajuan berkelanjutan melalui keputusan yang adil, bermoral, dan relevan dengan karakter masyarakat,” kata Cantiasa.

Menurutnya, kepemimpinan yang berakar pada budaya dan dharma setidaknya memiliki empat karakter utama, yakni budaya sebagai kompas strategi, dharma sebagai fondasi moral, ngayah sebagai wujud pengabdian, serta visi yang berorientasi pada kesuksesan secara holistik.

Antusiasme peserta semakin meningkat saat memasuki sesi utama bedah buku Lawar Leadership yang menghadirkan penulis I Made Arya Amitaba dengan moderator aktivis muda Hindu I Wayan Darmawan.

Dalam paparannya, Arya Amitaba menegaskan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya Bali, memiliki kekayaan nilai lokal yang dapat menjadi sumber pembelajaran kepemimpinan.

“Kita tidak harus selalu merujuk ke luar untuk belajar kepemimpinan. Banyak nilai kearifan lokal yang dapat dijadikan rujukan, salah satunya filosofi lawar,” ujarnya.

Diskusi berlangsung dinamis ketika moderator membuka ruang bagi peserta untuk menyampaikan pandangan dan tanggapan. Sejumlah tokoh dan peserta memberikan apresiasi atas gagasan para penulis yang menjadikan lawar, makanan tradisional Bali, sebagai metafora kepemimpinan.

Pakar kepemimpinan Dr. I Putu Sastra Wingata menilai buku tersebut berhasil menghadirkan perspektif baru dalam kajian kepemimpinan berbasis budaya.

“Penulis sangat jeli menghadirkan idiom baru melalui buku Lawar Leadership. Tantangan berikutnya adalah bagaimana gagasan dalam buku ini dipraktikkan menjadi perilaku kepemimpinan nyata, dimulai dari Bali,” ujarnya.

Respons positif yang mengemuka sepanjang diskusi menunjukkan bahwa pendekatan kepemimpinan berbasis budaya lokal masih relevan di tengah tantangan zaman.

Melalui filosofi sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Lawar Leadership dinilai mampu menghadirkan inspirasi baru tentang pentingnya harmoni, keberagaman unsur, dan nilai kebersamaan dalam membangun kepemimpinan yang kuat dan berkarakter.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *